DERITA SANG MUSYAFIR
Peluh keringat dan debu jalanan menyelimuti tubuh,terik mentari menemani sepanjang siangku dan angin malam sebagai selimut tidurku yang hanya mampu terbujur ditepian jalan,lelah dan letih menyertai perjalananku yang tak pernah berujung,lorong jalan kutelusuri tanpa henti,pulang pergi kesana kemari tanpa ada arah tujuan,tiada tempat bernaung dan berteduh, tanpa sanak saudara,tanpa rekan dan kerabat.Hari-hari hanya di rundung kesunyian yang tiada akhir,aku tak mengerti entah sampai kapan semua ini akan berakhir,walau aku menangis sungguh tiada guna,semuanya hanya akan menambah beban dan luka,kepahitan kehidupan ini terpaksa aku telan,walau aku tak mengerti dengan apa yang kujalani saat ini.kadang aku merasa muak dengan semua apa-apa yang di ceritakan dalam sejarah dan pedoman kehidupan,karna nyatanya aku hanya semakin terpuruk dan terpuruk tanpa adayang mau peduli sedikitpun,.
Ditengah terik mentari,aku hentikan langkahku sambil memandang satu pohon yang begitu rindang,aku pun kemudian melangkah menghampiri pohon itu,dan duduk bersandar pada pohon itu sambil memandangi segenap orang yang lalu lalang di jalanan yang hanya asyik dengan kesibukan mereka,mata memandang namun fikiran sibuk dengan sejuta pertanyaan yang tiada kudapati jawabanya,rasa iri dengan kehidupan mereka yang merasa kenyamanan hidup yang layak.sayup sayup terdengar suara adzan,aku pun bangkit dan segera menghampiri suara adzan yang berasal dari sebuah mesjid yang tak jauh dari tempat aku duduk,setelah sampai akupun seraya berwudlu dan bersholat berjamaah,walau cuma hanya diteras sendirian,aku gak berani masuk kedalam mesjid ku takut bau keringat dan lusuhnya pakaian ku mengganggu kekhusuan sholat mereka.Setelah selesai aku coba rebahkan badanku yang merasa keletihan dan kelaparan,sedang asyik berbaring tiba-tiba aku dihampiri seseorang yang berpakaian layaknya seorang kyai,dan seraya menyapa
"assalamualaikum.."
"walaikum salam." jawabku sambil lekas duduk bersila
"maaf mas saya lihat mas bukan penduduk sini ya..?"
'ya..pak,saya orang jauh yang kebetulan melintas daerah sini."jelasku
"hmm..dari mana dan mau kemana kiranya?"
"entahlah pak.saya belum tahu mau kemana saya harus menuju,saya hanya ikuti hati dan fikiran ku..."
kemudian pak kyai itu memberikan pandangan,dam kami saling tanya jawab yang cukup sangat panjang
"manusia hidup harus punya tujuan mas,karena tanpa tujuan kita akan terlunta-lunta.."
"memang harusnya demikian pak,namun bagaimana menempuh tujuan itu...?saya merasa lelah dengan tujuan yang tak kunjung kesampaian malah yang ada hanya jadi sebuah hinaan dan cemoohan orang orang saja....!"
"Hmm gak semua orang seperti itu mas...."
"yahh itu fakta pak,contohnya saya kepingin dapat pekerejaan,agar saya bisa bertahan hidup.namun yang saya dapat hanya sebuah cacian..,memang saya juga sadar pak,gak ada yang bisa saya perbuat,apa lagi kalau mereka sudah mengetahui fisikku yang cacat ini"
"cacat apa..?
"kaki saya patah tulang pak,dan itu yang membuat mereka gak mau menerima saya kerja..apalagi saya ini bukan orang yang jelas,karena berjalan tanpa identitas"
"emang knapa enggak bikin identitas..?
"bagaimana mau bikin pak sedang saya tak jelas dimana saya berdomosili..dan tiada sanak saudara"
"ooo...emang cukup sulit bila tanpa identitas..karena banyak orang yang menyamar-nyamar dan akhirnya berbuat yang tidak baik.."
"yah ....mau gimana lagi pak karena itu faktanya.."
"ya udah sabar ya mas..tawakal pada allah saja....oo ya saya permisi dulu yaa..."
"ya silakan pak..."
pak kyai pun bangkit dan lekas berlalu,akupun kembali berbaring,ingin rasanya aku pejamkan mata namun tak bisa malah aku kepikiran pada ucapan pak kyai tentang sabar dan tawakal,hingga timbul pertanyaan dalam hati"apakah sabar dan tawakal bisa mengenyangkan perut?"hmm ada ada aja,memang manusia kalo bicara enak namun gak pernah merasakan apa yang di rasakan orang lain,dan ujungnya selalu sabar ,tabah ,tawakal,ikhlas.padahal siapa sih yang bisa tabah sabar dan tawakal serta ikhlas bila bertahun-tahun gak makan dan selalu di cemooh orang,memang jika bersandar ke agama iya.namun kenyataanya siapa yang bisa seperti itu.
Setelah sholat ashar akupun melanjutkan perjalananku,walau tanpa arah dan tujuan dan hanya mengikuti kata hati dan fikiranku,aku terus berjalan tuk menyusuri jalanan,hingga hampir larut,aku cobacari mesjid yang ada di aerah itu,dan kebetulan malam ini mau turun hujan,untungnya aku menemukan mesjid itu,hingga saya dapat berteduh dari dertasnya hujan,namun hujan tak kunjung reda,aku bingung,gak mungkin aku terus berjalan di saat hujan sederas ini,terlintas dalam fikiran ku untuk ikut beristirahat di mesjid,namun aku gak tahu harus ijin sama siapa,yang ada hanya dua orang yang sedang asyik mengobrol,dan aku hanya bisa pandangi mereka,sampai akhirnya salah seorang dari mereka pamit,dan keluar dari mesjid,aku pun ikut bangun dan mencoba menghampiri orang yang masih tinggal tersebut yang ternyata dia adalah marbot mesjid.aku pun coba minta ijin untuk istirahat dimesjid,namun marbot itu menolaknya dengan seribu alasan,fikirku ya sudah lah gak apa-apa jika aku harus terus berjalan tapi setidak nya nanti nunggu hujan reda,namun marbot itu pun tak mengijinkan juga katanya
"mas mesjid nya mau di kunci.."
"ya pak... saya mohon tolong saya ,setidaknya sampai hujan ini reda..."
"gak bisa mas..masa saya harus nungguin mas pergi...saya juga butuh istirahat mas..!"
Dengan terpaksa dan bercampur geram aku keluar dari mesjid.dibawah derasnya hujan aku terus selusuri jalanan beraspal sampai aku tak bisa istirahat sama sekali karna tak kutemukan tempat bernaung.
Sepanjang malam aku tak henti berjalan,di temani hujan yang begitu deras,baru menjelang pagi hujan terhenti,pakaianku yang basah kuyup tak bisa aku ganti karena tas ku juga basah pakaian ganti di tasku pun basah.jikq dibawa berat dan pasti akan bau bila gak di jemur, namun mau jemur di mana....akhirnya tas itu aku buang dan aku lanjutkan perjalanan, dengan rasa dingin yang menyelimuti tubuh dan mata yg semakin berat menahan rasa kantuk aku berjalan dengan sesekali mata ini aku pejam kan sekejap namun kaki tetap melangkah,telingaku mendengar sayup sayup suara adzan berkumandang,aku pun lekas mencari arah suara itu,gak begitu jauh kulihat sebuah mesjid dan akupun terus menghampiri mesjid itu dan segera ambil air wudlu,aku pun ikut berjamaah namun aku gak berani masuk kesalam,jadi hanya sholat di luar saja karena bajuku ini masih basah,ketika sudah selesai dan mereka semua pulang,aku mencoba untuk barungkan tubuh ini,mungkin karena mata sudah mengantuk berat dan juga merasa lelah habis berjalan semalaman,walau dengan baju yg basah akhirnya terlelap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar